Kamis, 22 Oktober 2015

Sebutir Pasir

Sebutir Pasir Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Aku adalah sebutir pasir yang menetap di sebuah pantai yang sepi tak berpenghuni, tiada satu pun orang yang datang untuk bermain, memancing di tepian laut atau bersenda gurau dengan ombak yang bergulung–gulung tanpa henti dan belas kasih menerpa, menyeret teman teman serta sanak familiku yang sedang bermain di tepiannya, yang kemudian dihempaskannya mereka ke dasar biru.

Tenggelam. Tak mudah kembali ketepian untuk melaksanakan kewajiban, tugas tugas apalagi untuk mengambil hak hak mereka yang telah hilang bersama mereka. Terseret. Masuk kedalam dunia penuh keindahan dalam kerajaan laut yang abadi sampai lautan itu berubah menjadi api.

Kalian semua dapat mencari aku dengan mudah karena aku adalah sebutir pasir yang berwarna abu abu yang ada diantara pasir putih yang menghampar luas di pinggiran laut yang biru. Tetapi kadang kau bisa jumpai aku di antara pasir hitam.

Sibakkanlah pasir itu maka kau akan menemukanku sedang bercumbu mesra diantara kerang kerang yang terbenam dalam gundukan pasir hitam. Kelam. Seakan melukiskan warna dalam jiwaku, walaupun aku hanya sebutir pasir.

Gemerisik tubuh kami yang saling bersinggungan karena sang angin yang berhembus pelan menyisir pantai. Membelai kematian. Berpuluh, beratus, beribu, berpuluh ribu, beratus ribu, ber
... baca selengkapnya di Sebutir Pasir Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Senin, 07 September 2015

Demokrasi dan Sepak Bola Kita

Di Indonesia, fenomena pendukung partai politik serupa dengan fenomena pendukung sepak bola. Piala Dunia Sepak Bola merupakan fenomena menarik. Setiap empat tahun sekali football fevermenjangkiti dunia. Ribuan penggemar sepak bola dari berbagai belahan dunia membayar ribuan dolar untuk ongkos pesawat, hotel, dan tiket masuk agar bisa menyaksikan pertandingan dari dekat. Sementara ratusan juta penggemar di seluruh dunia menonton melalui televisi atau mendengarkan melalui radio. Begitu juga di Indonesia, tak terhitung jumlah penggemar sepak bola yang rutin menyaksikan pertandingan secara langsung. Yang menarik dari fenomena sepak bola itu adalah fanatisme pendukung dan dukungan total secara moril-material untuk kesebelasan dan pemain favoritnya. Para pendukung ini rela dan sanggup mengeluarkan ribuan dolar agar bisa memberi dukungan langsung pada kesebelasan favoritnya. Hansen (1998) penulis sosiologi olahraga menjelaskan fenomena ini dengan menyebutnya sebagai-salah satunya-deindividuisasi. Artinya, sebagian dari identitas pribadi para pendukung itu terkikis dan mereka mengidentifikasi dirinya sebagai bagian dari tim favoritnya. Meski fenomena ini menarik diamati secara psikologis dan sosiologis, karena para pendukung benar-benar all out dalam memberikan dukungannya, tetapi dengan memakai pendekatan political economyfenomena ini jadi relevan dengan demokrasi kita di Indonesia dan menarik untuk dianalisis. Pendekatanpolitical economy ini biasa mendasarkan pada pertanyaan: who gets what, and why (siapa mendapat apa, dan mengapa)?. Dalam konteks dukung-mendukung itu pertanyaannya adalah, para pemain dan pendukung ini memperoleh rewards apa? Yang pasti para pendukung senang saat tim dukungannya menang, dan ikut merasa terpukul jika timnya kalah, tetapi secara materi mereka tidak mendapat apa-apa. Justru pemain yang didukung yang mendapatkan semua rewards. Ketika pemain sepak bola mencium piala emas itu, jutaan pendukungnya bersorak riang. Ketika pemain sepak bola itu kembali ke negaranya membawa rasa bangga dengan berbagai bonus, jutaan pendukungnya kembali pada realita hidupnya membawa bahagia dengan tangan hampa. Para pemain mendapatkan semua kompensasi, sementara pendukungnya meski boleh ikut bahagia dan boleh berbangga, tetapi tetap saja cuma bisa menonton. Ketika konstruk hubungannya adalah antara pendukung dan pemain olahraga, maka fenomena dukung-mendukung macam ini tampak normal. Yang menjadi masalah adalah bila konstruk hubungan ala sepak bola ini terjadi dalam dunia politik di mana rakyat sebagai suporter dan partai politik sebagai tim sepak bola. Rakyat pendukung ini mati-matian berdebat, membela partai pujaannya dan bila partai pujaannya dikritik atau diejek, mereka sanggup tak cuma beradu jotos tapi juga beradu-nyawa untuk membela. Setiap saat partai kesayangannya itu bertanding dalam pemilu, maka para pendukung ini pun sanggup mendukung habis-habisan. Lalu saat “pertandingan” selesai, terjadilah ironi itu: para politisi meraih berbagai hadiah dan trofi dalam bentuk kekuasaan politik, sedangkan para pendukung-yang fanatik sekalipun-cuma bisa menonton dan gigit jari. Berbeda dengan sepak bola yang lapangannya dibatasi pagar kokoh dan pemain tidak boleh dipengaruhi kelakuan pendukungnya, lapangan politik dalam demokrasi adalah arena partai politik yang perlu dan harus dipengaruhi pendukungnya. Dalam sepak bola, lapangan itu milik pemain. Dalam demokrasi, lapangan politik itu milik rakyat. Lapangan politik itu untuk pertandingan secara non-violence, bukan cuma kepentingan politisi tetapi kepentingan rakyat yang diwakilinya. Lebih jauh lagi, karena manfaat/output dari demokrasi ditentukan oleh aktor yang terlibat, maka memikirkan dan memformulasikan kepentingan adalah modal untuk mendapatkan manfaat dari demokrasi. (Przeworski, 1991) Dalam hal ini aktornya adalah para politik dan rakyat. Aktor yang tidak memikirkan dan memformulasikan kepentingan/agenda akan mengalami kerugian (opportunity cost). Di sisi lain, aktor yang siap dengan kepentingannya akan berpeluang lebih besar untuk diuntungkan. Kesadaran bahwa demokrasi adalah instrumen alokasi kekuasaan politik dan ekonomi akan memaksa para aktor demokrasi (yaitu partai dan rakyat) untuk berinteraksi secara kalkulatif. Dalam seting yang kalkulatif maka: Rakyat memberi dukungan pada partai politik. Partai politik memperjuangkan kepentingan pendukungnya. Akibatnya, interaksi rakyat dengan partai menjadi sebuah interaksi yang bersifat transaksional dan masing-masing pihak mengadopsi langkah yang, dalam kajian game theory, disebut Tif-For-Tat. Di sini terlihat, dalam demokrasi, konstruk hubungan pendukung dan partai politik bergerak dua arah. Sementara, konstruk hubungan pendukung dan pemain sepak bola hanya bergerak satu arah yaitu dari pendukung pada pemain. Dalam hubungan satu arah ini tidak perlu karakter kalkulatif, apalagi transaksional. Sayang, konstruk hubungan ala sepak bola ini hidup subur dalam dunia politik di Indonesia. Di Indonesia, fenomena pendukung partai politik serupa dengan fenomena pendukung sepak bola. Absennya hubungan yang kalkulatif dan transaksional membuat pendukung partai politik umumnya berperilaku sama dengan pendukung tim sepak bola. Tentu ada perkecualian. Misalnya para penarik becak di Jakarta, yang menyatakan sebagai pendukung partai tertentu. Ketika lahan hidup penarik becak digusur dan mereka menganggap partai dukungannya tidak peduli dan tidak membela maka mereka mengambil langkah sepadan, beramai-ramai mengembalikan kartu tanda anggota dan kaus/topi/atribut partai ke Kantor partai yang mereka dukung. Terobosan para penarik becak itu adalah langkah politik yang modern. Sayang, perilaku pendukung yang transaksional dan kalkulatif macam ini belum banyak ditiru. Bahkan, langkah penarik becak di Jakarta ini cenderung dicitrakan buruk: menarik dukungan selalu diasosiasikan dengan penggembosan dan rekayasa pihak ketiga. Padahal, dalam politik modern, menarik dukungan adalah sama legitimate-nya dengan memberi dukungan. Dengan absennya karakter kalkulatif dan transaksional ini maka wajar bila demokratisasi belum dirasakan faedahnya oleh rakyat. Demokratisasi minus karakter kalkulatif dan transaksional hanya berhasil menambah jumlah pemain dan tim di lapangan, yaitu jumlah politisi dan partai di arena politik, tetapi konstruk hubungan antara pemain dan pendukung justru tidak berubah. Di satu sisi, rakyat pendukung partai politik berperilaku seperti pendukung sepak bola, sama saja dengan kerja bakti politik. Rakyat pendukung tidak memikirkan apakah politisi dan partai dukungannya sedang menguntungkan atau merugikan dirinya. Di sisi lain, bisa dibayangkan betapa senangnya para politisi dan partai politik bila memiliki pendukung yang berperilaku seperti pendukung sepak bola. Politisi dan partai politik nasional dan pragmatis tentu akan berusaha melanggengkan kerja-bakti tanpa imbalan yang dilakukan pendukungnya. Dalam pandangan politisi, untuk apa diubah bila konstruk sekarang memang amat menguntungkan dirinya, toh para pendukungnya melakukan hubungan secara habis-habisan tanpa paksaan dan memang tanpa pamrih. Situasi ini merugikan bagi perkembangan demokrasi yang sehat. Karena itu, perlu ada perubahan. Mengubah konstruk hubungan partai politik dan rakyat pendukung bisa dilakukan dengan merasionalkan partisipasi politik melalui : Pendekatan struktural dan Pendekatan kultural. Bila menggunakan pendekatan struktural : Melalui rekayasa institusional, misalnya dengan mengubah electoral system atau memperpendek masa jabatan politisi. Tujuan rekayasa institusional itu adalah agar intensitas interaksi antara politisi dan rakyat jadi meningkat. Dalam cooperation theory (game theory), iterated games, macam pemilihan umum, yang berkala, reguler, dan intensif ini akan membuat setiap pihak lebih berpeluang menilai perilaku pihak lain secara cenderung kooperatif dan mutualistis (Axelrod, 1984). Jadi, politisi tidak akan punya cukup waktu dan peluang untuk menelantarkan aspirasi konstituennya, karena dia memerlukan dukungan rakyat agar bisa terpilih lagi pada pemilu berikutnya. Perubahan electoral system atau siklus pemilu yang lebih rapat ini bisa : Membuat rakyat lebih rasional dalam memberi dukungan. Politisi/partai dan rakyat terpaksa mengadopsi strategi timbal-balik (tit-for-tat). Bila menggunakan pendekatan kultural : misalnya, dengan pengembangan social capital. Seperti ditunjukkan Putnam dalam studi klasiknya tentang demokratisasi, tingkat perkembangan social capitalmenentukan optimalnya output politik dan ekonomi dari sebuah demokrasi. Di sini berbagai organisasi misalnya, organisasi nonpemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan asosiasi profesi, berfungsi menjadi katalis penumbuhan social capital. Social capital ini meliputi kepercayaan, nilai timbal-balik (reciprocity), dan jaringan (Putnam, 1993). Pelibatan rakyat secara kolosal dalam organisasi-organisasi macam ini akan menyadarkan bahwa partisipasi politik mereka perlu dipenuhi dengan agenda dan bukan sekadar kerja bakti politik. Jadi, kembali pada pertanyaan di awal tulisan ini, who gets what, and why?. Minimnya faedah demokrasi untuk rakyat, bukan karena demokrasi yang, by design, merugikan rakyat tetapi, salah satunya, karena konstruk hubungan antara partai dan rakyat itu bukan konstruk yang transaksional dan kalkulatif. Karena itu konstruk hubungan dan interaksi ala dunia persepakbolaan ini harus diakhiri, agar transisi atau demokratisasi di Indonesia tidak cuma menghasilkan elite demokrasi, atau bahkan, pseudodemocracy tetapi merupakan konsolidasi demokrasi yang berpihak pada rakyat kebanyakan.

Minggu, 23 Agustus 2015

Sertifikasi Trainer

Sertifikasi Trainer Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Sekitar dua puluh tahun yang lalu, profesi trainer atau instruktur pelatihan dibidang soft-people-skills nyaris tidak dikenal oleh publik di Indonesia. Itu sebabnya saya tak terlalu heran ketika ayah saya kebingungan memahami jenis pekerjaan yang saya mulai tekuni di tahun 1990. Waktu itu saya menjadi calon instruktur di Dale Carnegie Training Indonesia. Selama kurang lebih 18 bulan saya mengikuti proses persiapan untuk memperoleh sertifikasi awal sebagai instruktur berlisensi. Lalu saya diuji melalui forum konferensi instruktur yang dipimpin trainer instruktur senior dari Hong Kong Dennita Connor dibantu seorang calon trainer instruktur dari Manila, Filipina, yang saya lupa namanya.

Hasilnya, saya lulus dengan angka terbaik di angkatan tersebut. Saya juga menjadi instruktur termuda di Indonesia kala itu. Rekomendasi yang diberikan Dennita Connor adalah yang terbaik: saya hanya perlu mengajar tandem dua kali saja dengan instruktur senior sebelum diijinkan mengajar sendiri (solo instructor) atas nama Dale Carnegie Training. Dengan lain perkataan, saya dianggap telah memenuhi standar internasional untuk menggunakan metodologi pelatihan yang diciptakan almarhum Dale Carnegie (1888-1955) sejak ia memulai kursus Public Speaking for Business Men di tahun 1912. Sebagai instruktur berlisensi Dale Carnegie Training, di awal tahun 1990-an jasa pela
... baca selengkapnya di Sertifikasi Trainer Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Rabu, 19 Agustus 2015

Hati Melayani

Hati Melayani Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

“Tanpa kepemimpinan, organisasi tidak dapat menyesuaikan diri dengan dunia yang berubah cepat. Namun, jika pemimpin tidak memiliki hati melayani, maka hanya ada potensi untuk bangkitnya sebuah tirani,” demikian, antara lain, pesan John P. Kotter dan James E. Heskett dalam Corporate Culture and Performance. Dengan kalimat tersebut Kotter dan Heskett mengingatkan kita tentang konsep kepemimpinan yang melayani; sebuah konsep kepemimpinan yang digagas secara mendalam oleh almarhum Robert K. Greenleaf, mantan eksekutif AT&T dan dosen di berbagai universitas terkemuka seperti MIT dan Harvard Business School, yang juga peneliti dan konsultan terkenal di Amerika.

Dalam salah satu karya terbaiknya yang bertajuk Servant Leadership (1977) ––sebuah karya yang mendapat sambutan hangat dan pujian tokoh-tokoh sekaliber Scott Peck, Max De Pree, Peter Senge, Warren Bennis, dan Danah Zohar–– Greenleaf antara lain mengatakan, “… the great leader is seen as servant first, and that simple fact is the key to his greatness”. Perhatikan bahwa Greenleaf menekankan “servant first” dan bukan “leader first”. Seorang pemimpin biasa menjadi pemimpin besar dengan cara melihat dirinya pertama-tama dan terutama sebagai pelayan dan bukan pemimpin. Ia pemimpin juga, tentu. Namun hatinya terutama dipenuhi oleh hasrat melayani konstituennya, melayani pengikutnya, melayani publik atau rakyat yang mengangkatnya menjadi pemimpin. Artinya, jabatan kepemimpinan di
... baca selengkapnya di Hati Melayani Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Senin, 17 Agustus 2015

Prasangka

Prasangka Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Dikisahkan, seorang janda miskin hidup berdua dengan putri kecilnya yang masih berusia sembilan tahun. Kemiskinan memaksanya untuk membuat sendiri kue-kue dan menjajakannya di pasar demi kelangsungan hidup mereka. Hidup penuh kekurangan membuat si kecil tidak pernah bermanja-manja kepada ibunya seperti anak-anak kecil lainnya.

Suatu hari di musim dingin, saat selesai membuat kue, si ibu tersadar melihat keranjang penjaja kuenya sudah rusak berat. Dia pun keluar rumah untuk membeli keranjang baru dan berpesan kepada putrinya agar menunggu saja di rumah. Pulang dari membeli keranjang, si ibu menemukan pintu rumah tidak terkunci dan putrinya tidak ada di rumah. Spontan amarahnya memuncak. Putri betul-betul tidak tahu diri! Cuaca dingin seperti ini, disuruh diam di rumah sebentar saja malahan pergi bermain dengan teman-temannya!

Setelah selesai menyusun kue di keranjang, si ibu segera pergi untuk menjajakan kuenya. Dinginnya salju yang memenuhi jalanan tidak menyurutkan tekadnya demi kehidupan mereka. Dan sebagai hukuman untuk si putri, pintu rumah di kuncinya dari luar. “Kali ini Putri harus diberi pelajaran karena telah melanggar pesan,” geram si ibu dalam hati.

Sepulang dari menjajakan kue, mata si ibu mendadak nanar saat menemukan gadis kecilnya tergeletak di depan pintu. Dengan berteriak histeris segera dipeluknya tubuh putrinya yan
... baca selengkapnya di Prasangka Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Kamis, 30 Mei 2013

Problem Moralitas Bangsa Indonesia ( OPINI )

Seiring dengan perkembangan zaman, banyak kasus-kasus di negara ini yang bersifat amoral. Misalnya, kasus korupsi yang hampir membudaya dan menjamur di negara ini. Dari kalangan bawah sampai elit pemerintah negara terlibat kasus korupsi. Selain kasus korupsi, kasus narkoba, pemerkosaan, pembunuhan dan pergaulan bebas yang menjerat kaum remaja, membuat negara ini semakin terpuruk. Sehingga dapat dikatakan moral generasi penerus bangsa semakin luntur. Hal tersebut membuktikan bahwa negara ini sangat rendah moralnya. Salah satu faktor kasus amoral tersebut, karena rendahnya kesadaran masyarakat terhadap masuknya budaya-budaya asing. Sebab, budaya tersebut masuk dengan cepat dan membawa pengaruh besar bagi masyarakat Indonesia, sehingga budaya Indonesia terkontaminasi dengan budaya-budaya dari luar. Teknologi yang canggih dan didukung oleh kuatnya pengaruh media massa seperti adanya internet yang bisa diakses dengan mudah, mengakibatkan moral bangsa Indonesia semakin hari semakin menurun. Para remaja sebenarnya berperan aktif dan dituntut untuk memberi contoh, tapi mereka malah mengikuti trend tanpa memikirkan kondisi bangsa yang saat ini mengkhawatirkan. Perjuangan pahlawan kemerdekaan yang seharusnya diisi dengan hal-hal yang bersifat nasionalisme malah dikotori dengan perbuatan amoral. Seharusnya kita menghargai perjuangan para pahlawan yang rela mati demi kemerdekaan itu dengan meneruskan perjuangannya, bukan malah mencederai. Dari tahun ke tahun, bangsa menginginkan masalah atau kasus-kasus yang ada di Indonesia cepat tuntas tapi malah sebaliknya, masalah tersebut tidak berkurang melainkan terus mengalami banyak peningkatan. Kasus korupsi yang tidak ada ujungnya, kasus narkoba semakin meluas mulai dari kalangan artis sampai anggota badan negara, kasus pembunuhan merajalela, kasus pemerkosaan, penganiayaan, dan masih banyak kasus-kasus lain yang menunjukkan bahwa telah terjadi penurunan moral secara drastis di negara Indonesia. Indonesia memang negara yang tidak lepas dari kasus-kasus yang sudah ada di atas, namun setidaknya Indonesia masih memiliki Pancasial sebagai falsafah hidup yang di dalamnya mengajarkan moral ideal. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang dulu terkenal dengan perilaku yang sopan dan santun, namun saat ini moral bangsa Indonesia mulai terkikis sedikit demi sedikit karena banyaknya pengaruh negatif dari negara luar. Menurut Wiranto, akhlak dan moral bangsa Indonesia dewasa ini sedang mengalami degradasi sehingga masyarakat belum bisa sejahtera. Banyak kasus yang dilakukan oleh berbagai jenis kalangan, mulai dari kalangan bawah, menengah, dan atas sebagai bukti atas degradasi yang saat ini dialami oleh bangsa Indonesia. Moral merupakan sikap atau perilaku yang di lakukan oleh seseorang. Moral itu sangat penting karena apabila orang itu tidak bermoral maka akan dipandang buruk oleh orang lain. Moral bangsa Indonesia saat ini bisa dikatakan terancam rusak dan sasaran utamanya adalah nama baik negara Indonesia, jika moral bangsa negara itu rusak maka nama negara akan tercemar bagi siapa saja yang memandang dari segi moralitas. Moral bangsa Indonesia perlu mendapat perhatian yang khusus, agar bisa diperbaiki secara bertahap. Untuk menata kembali negara Indonesia ini, para pemimpin harus pandai dalam mengatur strategi dan mencari konsep yang tepat agar moral bangsa Indonesia lebih baik. Suatu negara akan selalu dipandang bagus apabila moralitas bangsa negara tersebut baik. Jika dalam segi moralnya negara itu baik, maka besar kemungkinan negara tersebut sejahtera. Para pemimpin menjadi contoh bagi rakyatnya. Sebab, rakyat melihat sosok pemimpinnya. Para pemimpin harus bertanggung jawab atas rakyatnya. Kepemimpinan memang amanah yang tinggi, para pemimpin harus menjaga amanah yang sudah diberikan kepada mereka. Negara yang aman dan sejahtera merupakan negara yang bebas dari semuanya mulai dari korupsi sampai dengan narkoba. Saat ini Indonesia memang sangat rindu akan negara yang adil, bersih dari korupsi, dan bebas narkoba. Mereka mengidamkan negara aman, tenteram dan sejahtera. Negara Indonesia butuh para pemimpin yang bisa merubah negaranya lebih maju dan mampu mengayomi masyarakat. Kesejahteraan negara Indonesia ada di tangan bangsa Indonesia itu sendiri, karena itu perlu adanya kesadaran seluruh masyarakat dan para pemimpin untuk melakukan perbaikan moral demi kesejahteraan dan kemajuan bangsa Indonesia.

Selasa, 26 Februari 2013

POLITIK

PEMILU 2014, PERTARUNGAN MURID SATU GURU Membangun kecerdasan politik dapat dilakukan melalu berbagai pendekatan. Melalui kompetensi pengelolaan keanekaragaman hayati, melalui perumusan masalah dalam metodologi ilmiah, bahkan melalui matematika dan pelajaran lainnya. Evaluasi dan koreksi yang jujur dan kontekstual dapat membuka pintu kecerdasan politik siswa. Namun dinamika di panggung politik yg memerlukan buffer sering menggodaku ingin terjun kembali ke kancah politik yg sudah digeluti sejak mahasiswa. Mudah mudahan banyak sahabat yang jauh lebih berkompeten tampil ke gelanggang untuk menunjukan bahwa berpolitik tidak harus korup, berpolik tidak harus berbohong dan munafik. Pendek kata, kita dapat berpolitik bahkan harus dengan tetap menjaga akidah dan akhlaku karimah. Berpolitik harus menjalankan perilaku korup adalah jatgon politikus penganut partai syaitan, bukan partai Allah (Khizbullah). Tokoh tokoh Masyumi, spt Buya Muhammad Natsir, M Rum, Pak Kasman dkk, layak dijadikan teladan. Mengaku politisi Islam Indonesia, tetapi menutup mata thdp tladan para Founding Fathers dari tokoh tokoh Islam sebenarnya telah tercerabut dari akar perjuangan Islam Indonesia dengan nasionalismenya yg telah tumbuh jauh sebelum kemerdekaan. Apa yang dipertontonkan oleh para politisi muslim terutama yang mengklaim partai Islam, sungguh sangat jauh dari teladan para fonding fathers tokoh tokoh Islam Terpisahnya perkataan dan perbuatan pemimpin dan politisi muslim telah menjadi hijab pada nilai-nilai Islam yg Indah, Mulia dan rahmatalil alamin. Tantangan berat membangun kembali nilai nilai mulia yang telah dibangun oleh para founding fathers muslim di negeri ini. Oknum oknum yg tidak meneladani para pendahulu kita, kita lupa menjadi kader kader pimpinan umat. Kaderisasi tentu tidak sekedar memberikan jargon-jargon politik,ceramah-cramah tetapi juga "Stratak" strategy dan tajtik yang teraplikasi langsung sehingga "tidak mudah terjebak" adalah sangat perlu. Demnikian juga pemahaman dinamika politik dan kepemimpinan Indonesia (teladan Para Faunding fathers Muslim), apa yang diambil oleh mereka yang bergerak sekatang teladan yang sangat jauh gapnya, Kita lupa, bahawa teladan para salaf telah diterapkan dan diakulturasi oleh para pendahulu, dalam ke hasan Indonesia. Mereka bangga dengan referensi-referensi yang umat tiodak paham. Padahal referensi-referensi itu telah "diterjemahkan dan diejawantahkan" oleh para pemimpin Islam terdahulu dalam konteks ke Indonesiaan. KIta sering berlagak sok tahu, karena baru pulang dari Timur Tengah, padahal yang namanya KH Ahmad DSahlan, H. Hasyim Asyari, sudah belajar referensi-referensi itu dan menyesuaikannya dengan Indonesia. Bahkan menggunakan bahasa dan budaya setekmjpat sehingga fdciterima dengan bersahabat, bukan seperti "makhluk asing" yang mengundang kecurigaan. Pemilu 2014 akan diwarnai oleh politisi politisi satu guru : Regim Otoriter Orde Baru baik mereka yang dari jalur A(ABRI), B(Birokrta) dan C(konglemerat, tepatnya Capitalis). Disamping pemilu 2014 merupakan pertarungan satu guru rezim otoriter ordebaru, juga menyeruak keprihatinan terpuruknya kubu Islam nasionalis krn amanah yg diingkari oknum oknum pragmatis. Ini sangat ironis mengingat mayoritas penduduk indonesia adalah muslim. Dapat diprediksika terhadap produk produk parlemen terkait dengan nilai 2 islam nantinya. Sebuah tantangan yg harus dijawab kaum muslimin Indonesia tentunya. Dari jalur A, ABRI, akan muncul kompetitor Prabowo, mantan menantu dari penasehat ekonominya, Soemitro, Mungkin Soedtiyoso, San Wiranto yang kemungkinan bergandengan denga Hary Tanudjaya yang posternya sudah terpampang dimana-mana, bahkan baru saja mendeklarasikan mesin politiknya dalam bentuk ormas, Perindo (Persatuan Indonesia) setelah hengkang dari Nasdem. Sebelum pembacaan manivesto Perindo oleh Ahmad Rofik, ada lagu dg syair yg layak direnungkan "Mau Dibawa Kemana ? Jika dilanjutkan menjadi Mau dibawa kemana Perindo ? Sepertinya tidak sulit menjawabnya : Hanura ! Kelihatannya Perindo akan dijadikan mesin pemanen suara Hanura terutama pemilih muda. Walaupun Hary mengatakan Perindo bukan sayap politik Hanura, tetapi siap bekerja sama dengan Hanura tidak bisa tidak dapat diartikan sebagai siap ,menjadi mesin politik untuk memanenj suara. Bagi Hary Tanujaya, mungkin berlaku "Menabur Ormas, Memanen dukungan Politik. Pada Jalur C, konglemerat (baca kapitalis - pen) muncul calon dari Golkar, partai tulang punggung Orde Baru yakni Aburizal Bakrie yang disorot terkait masalah Lumpur Lapindo, juga Surya Paloh yang menggunakan kendatraan Nasdem, nasional demokrat. Boleh jadi dari jalur ini njuag akan muncul JK. Dari Jalur B, Birokrat, mungkin Sri Mulyani, tetapi rupanya sudah reda blow up pencalonannya mednjadi RI 1. Lantas, Siapa penyambung suara kaum santri di Senayan kelak ? Kejayaan kaum Santri untuk menjaga nilai nilai Ketuhan Yang Maha Esa dalam makna Tauhid tidak mau tidak harus dilakukan oleh kaum bertauhid (santri) sendiri.Jika Perindo menamakan dirinya sbg Rumah kaum Merdeka (Liberal ?) adakah Rumah Kaum Beragama ? Atau Rumah Umat Tuhan ? Rumah kaum Beragama, kekuatan parlementer umat beragama sangat diperlukan di tengah tantangan dan upaya kaum liberal memproduk undang undang yang melanggar aturan tuhan yg universal seperti perjudian, prostitusi, pernikahan sejenis dll. Dowes Deker mengakui, tanpa Islam tidak ada nasionalisme Indonesia. Tetapi ironisnya, sejak sebelum kemerdekaan, piagam jakarta, konstituante, orla, orba dan saat ini, dr umat islam 99% dan kini tinggal 83 % kelompok Islan selalu didzalimi. Era konstituante dimana perdebatan dasar negara dibuka lebar lebar sehingga semua kelompok menyampaikan aspirasi sesuai tuntunan agama atau ideologinya, kelompok islam didzalimi dg cap yg sangat membunuh karakter, demikian jg kasus Masyumi, P4, Azaz Tunggal dan saat ini. Kelompok Islam terus didzalimi dg cap cap yg sangat merugikan. Bgm kalau pada ahirnya umat Islam tinggal 50% ? Wallahu a'lam. Hati nurani kita yg bersih akan dapat menangkap firosat yg benar apa yang akan terjadi. Peperangan abadi ta'muruuna bil ma'ruf wa tanhauna 'anil munkar selalu berhadapan dengan ta'muruuna bil munkar wa tanhauna 'anil ma'ruruf, atau da'wah ilaa sabilillah senantiasa berhadapan dengan da'wah ilaa sabilithoghut dalam berbagai manifestasinya termasuk terkait nilai dan pemikiran (ghoswul fikr) dan ini tidak mungkin tidak kaum muslimin harus mimiliki "pasukannya" di lini mana saja termasuk di parlemen untuk mengawal produk 2 nya agar tidak bertentangan dg iman tauhid. Hal ini tidak cukup dengan "jihad hati" tetapi harus diartikulasikan dalam tindakan riil. Memang berat melakukan hal ini di tengah muka penuh bopeng akhibat ulah oknum pemimpin dan politisi muslim yg lain ucapan dan tindakan. Tetapi kita harus melakukannya agar tercipta Indonesia yg baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur. Evalusia dan koreksi total atas outcome yang mudah terkooptasi pragmatisme dilakukan Dengan mengubah Nilai dasar Perjuangan Insan Cita menjadi Khittoh Ulul Albab. Saya yakin komitmen Ke Islaman dan Keindonesiaan HMI MPO termasuk alumninya sangat berbeda dengan AU, AT, AG dll. Sayangnya, ORBA dengan screeningnya telah menyingkirkan kader kader bangsa potensial itu, inilah kerugian yang dilakukan ORBA sehingga Kita kekurangan pemimpin yang Ulul Albab. Disisi lain selama kami tidak punya "Rumah kaum Penyelamat" dan sekedar menjadi "Power Supply" bagi kepemimpinan lembaga lain, maka "outcome" HMI MPO harus mau "dibubut", "digerenda", "diamplas", "diketok" dan "dicat" sesuai Lembaga User nya. Disitulah menjadi problem. HMI MPO harus menjadi "industri terpadu" dari hulu sampai hilir (Partai Politik) sendiri agar terjaga ioriginalitasnya. SEMOGA KITA DIBERIKAN KEKUATAN DAN PERTOLONGAN UNTUK MELAKUKAN YANG TERBAIK.